Dalam tradisi Jawa, meper nafsu berarti mengendalikan hawa nafsu,
menjernihkan pikiran, dan membersihkan hati –
mengurangi kenikmatan sesaat agar diri tidak mudah dikuasai keinginan sementara.
Desain ini menggambarkan manusia yang dikepung empat nafsu:
Lawwamah – dorongan biologis,
Amarah – ledakan emosi,
Supiah – hasrat duniawi,
Mutmainah – ketenangan batin dan spiritual.
Dalam laku upawasa, Mutmainah menjadi pusat kendali – cahaya yang menuntun –
sementara tiga nafsu lainnya belajar untuk tunduk.